Sebutkan Alasanmu Masuk Jurusan Pendidikan

Suatu ketika, saat saya sudah resmi menjadi mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika, dalam sebuah mata kuliah tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan mendasar yang memerlukan argumen yang beralasan, yaitu "Apa alasanmu masuk jurusan pendidikan?"

Sempat saya sepelekan pertanyaan itu, karena jawabannya terlalu mudah. Ya, karena saya ingin menjadi guru. Berpakaian rapih disertai sepasang sepatu, berdiri di depan kelas menghadapi anak-anak yang sedang menimba ilmu, dan sepertinya menyenangkan. Akan tetapi ternyata tak semudah itu. 

Orang-orang di luar sana gencar membicarakan tentang "The Quarter Life Crisis". Saat saya baru menginjak semester 1, saya bertanya-tanya seperti apa rasanya dilanda hal itu. Dan saat ini saya merasakannya.

Menimba ilmu di Perguruan Tinggi adalah hal berat bagi kedua orang tua saya. Namun, mereka tak segan untuk mewujudkan mimpi anaknya. Meskipun mereka memaksakan diri di kondisi yang begitu sulit ini. Pembayaran UKT dan biaya lain cukup membuat saya stress akhir-akhir ini. Saya turut memikirkan masa depan, akankah uang yang telah susah payah orang tua saya gunakan untuk pendidikan saya dapat terganti dengan gaji pekerjaan saya kelak? Saya pun bertanya-tanya.

Awalnya saya sangat tertarik sekali menjadi guru, masuk jurusan pendidikan begitu membuat saya senang. Semula saya tidak sedikitpun berekspetasi tentang profesi ataupun uang. Yang saya pikirkan hanyalah ketertarikan saya dengan dunia pendidikan. Namun, minggu lalu, saya membuka aplikasi ipusnas di gawai saya, menemukan sebuah buku berjudul "Secangkir Kopi Kehidupan Guru". Ceritanya amat sangat sederhana, tetapi maknanya begitu luar biasa. Saya sampai terisak membaca setiap kisahnya, lika-liku kehidupan guru yang mungkin tak pernah terbayangkan oleh murid-muridnya bahkan oleh orang sekitarnya. Dalam setiap diskusi di bangku perkuliahan, seringkali dipertanyakan masalah kesejahteraan guru, dan itu salah satu masalah penting di dunia pendidikan kita. Tugas mendidik bukanlah hal mudah, karena memahami manusia adalah pekerjaan yang paling sulit, apalagi berusaha mengarahkan mereka ke arah yang semestinya. Namun sayangnya, selain harus memikirkan strategi pembelajaran, guru pun turut memikirkan bagaimana kehidupan mereka ke depannya. Terlebih guru honorer. Terlebih lagi sekolah-sekolah di luar sana yang tak pernah kita bayangkan. 

Saat ini, saya bertanya-tanya setiap saya membayangkan menjadi guru, apa yang mesti saya pilih, cita-cita atau realitas nyata? Kenyataan bahwa saya butuh uang untuk membalas budi kedua orang tua yang telah memberikan akses menginjak pendidikan tinggi, ataukah menjadi guru dengan segala kerja kerasnya? 

Setelah diasah selama 3 semester ini, bergelut di ranah diskusi tentang dunia pendidikan yang mungkin belum sebegitu dalam, serta melihat kenyataan bahwa di zaman dan situasi saat ini pendidikan benar-benar perlu digalakkan, nurani saya mengatakan bahwa menjadi guru adalah sebuah kesadaran akan hakikat manusia. Menjadi guru berarti menyongsong masa depan dunia yang cerah. Bukankah pendidikan telah mengantarkan kita ke peradaban ini? 

Maka, alangkah baiknya jika saya katakan bahwa alasan saya untuk menjadi guru adalah untuk tetap melestarikan peradaban manusia.

Terimakasih untuk semua guru di bumi ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STANDAR PENILAIAN DALAM PERSPEKTIF STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

WAWASAN DASAR PENGELOLAAN PENDIDIKAN

MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA: PROBLEM BASED LEARNING